Hay guys . . . kenalin nie, nama aku Kavi, tepatnya Kavia Nanda. Aku anak SMA tingkatan yang kesebelas, alias kelas dua SMA. Aku sama seperti anak yang pada umumnya, aku suka makan, suka jajan , suka nonton, suka jalan** ke mall, dan yang jelas sebagai pelajar aku harus rajin membaca. Tetapi . . . buku yang aku baca itu bukanlah buku pelajaran, melainkan animasi komik. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Keluargaku sederhana . . . banget, gak kayak** amat kok. Keluargaku Cuma punya dua mobil, tiga pembantu dan lima buah motor. Lima motor itu sebagian punya aku,dan sisanya milik adik aku. Sedangkan dua mobilnya di pake sama papa dan mama ku. Papa ku seorang president directure sebuah perusahaan asing di Indonesia, dan yang jelas papa ku ini orang asing, papaku berasal dari Amrik. Makanya keluarga aku harus kudu pinter bahasa Inggrisnya.
Nandi sering bilang kalau kakaknya dia Iban sering nanyain aku kedia. Ya . . . pas aku Tanya ke Nandi kenapa kakaknya itu nanyain aku . . . Nandi bilang kalau kakanya itu suka banget ma aku, alias cinta mati ma aku. tapi masa shi, Iban yang katanya manis, ganteng, pinter, keren, bisa suka ma aku. sebenernya shi aku pengen nanya ke orangnya langsung, tapi aku gak tau orangnya yang mana, setiap kali aku minta dianterin ma Nandi, Nandi selalu bilang kalau dia ada di dekat aku. aku gak ngerti sama sekali apa yang Nandi bilang ke aku. aku ingin ke kelasnya, tapi kelasnuya itu jauh banget, ada dilantai empat gedung sekolah ini, ya iyalah dia kan kelas tiga.
“Kavi . . . Kavi . . . Vi . . . ah elu, gw panggilin dari tadi kagak nyaut**. tuh ada yang nyariin lu tau . . .” “ oh . . . Mytha, sorry ya Mit, aku gak tau, emangnya siapa shi yang nyariin aku, ayo jujur!!!” “ Kavi . . . Kavi . . . lu masih aja ya polos kayak dulu, itu yang nyariin lu tuh Iban, Ibanu Satria anak kelas 3A. please dech . . . masa lu gak kenal shi ma dia. kalau lu gak kenal kenapa dia nyariin lu?” “ Ih . . . kamu ngeledek aku ya? jangan iseng dech jadi orang, kata siapa aku gak kenal sama Iban, orang aku kenal kok!!! jadi jangan sok tau, emangnya Iban nungguin aku dimana???” aku bertanya pada Mytha, kemudian Mytha menjawab dengan sebuah senyuman dan menunjukkan jari telunjuknya kearah atap gedung sekolah. ketika ia sudah berjalan jauh beberapa meter di belakangku, kemudian ia berkata padaku . . .” dia nunggu di atap gedung sekolah . . . lu cepetan gih kesana!”. Sepertinya ia tahu bahwa aku tidak mengerti maksudnya, makanya dia memberitahuku.
15 menit kemudian aku sampai di atap gedung sekolah, kulihat tiada siapa**, tempat ini sungguh sepi. ketika aku menginjakkan kakiku di turunan sebuah tangga, seseorang tiba** menarik tanganku dan tak kusangka dia mencium bibirku. Tak berapa lama aku mendorong badannya dan akhirnya ia melepaskan ciuman itu dariku.Ya lantas aku marah padanya dan berkata “ kamu nie siapa shi, tiba** kamu mencium bibirku. kamu kira aku senang, aku akan senang kalau yang menciumku itu . . .” pria itu menutup bibirku dengan kedua jari tangannya dan berkata “ nama aku Iban, aku anak kelas 3A. Aku tahu kok, kalau kamu akan senang jika dicium dengan cinta pertamamu kan? jadi sorry yach, kalu aku udah ngerebut ciuman pertamamu!”. kemudian aku membalas perkataannya “ Ih . . . kamu tau darimana kalau aku belum pernah berciuman sebelum ini? jangan** Nandi kasih tau kamu tentang ini Ya???”. kemudian ia mengangguk dan memberikan nomor hand phone nya padaku. entah kenapa semenjak kejadian itu aku menjadi dekat dengannya. saking dekatnya, jika ada waktu senggang sepulang sekolah aku dan dia jalan** bersama, mungkin inilah cinta pertamaku.
“ uh . . . untungnya hari ini hari minggu, jadinya aku gak perlu sekolah dech. oh ya pah, aku boleh minta sesuatu gak ma papa???”. “ memangnya Kavi anak papa yang paling cantik ini minta apa???”. “ itu lho pah, Kavi minta di beliin sebuah biola yang sangat indah, trus sekalian ama buku lagu** yang memakai instrument biola ya pah!!!”. “ wah ada angin apa nie anak papa tiba** minta di beliin sebuah biola, setau papa kamu hanya bisa bermain piano kan??? apa jangan** ada yang bikin anak papa jadi lebih menyukai music??!”. Tiba** mamaku mengikuti pembicaraanku dengan papa dan berkata “ bagus dech, akhirnya ada yang mengikuti jejak mama di dunia music, walaupun mama bukan pemain biola!”.
Entah mengapa aku menjadi suka bermain biola, mungkin karena aku sering mendengar Iban bermain alat music biola. ya . . . jelas ia sering bermain music di sekolah, kan soalnya sekolahku itu adalah sekolah kesenian. Tapi sayangnya aku mengambil jurusan Drama Musical, makanya aku ingin belajar bermain alat music dahulu, supaya aku bisa mengikuti kompetisi music biola sekolah yang bisa iikuti oleh department manapun yang tentunya bersama Iban. Apalagi kompetisi itu tinggal tiga bulan lagi, dan juara satu, dua, dan tiganya akan diikut sertakan dalam perlombaan tingkat wilayah. “ Kak . . . Kak Kavi, tuh handphonenya bunyi, ada telpon kali dari teman kakak!”. adikku menjerit memberitahuku bahwa ada yang meneleponku. “kira** siapa ya . . . yang meneleponku???”, ketika kulihat dilayar handphoneku . . . hah ternyata Iban yang meneleponku. Lalu ku angkat telpon itu dan berkata “ Halo Iban, ada apa kamu nelpon aku pagi** begini?”, dan ia menjawab “ Sorry yach aku nelpon kamu pagi** kayak gini. Ini lho aku mau ngajak kamu ke sebuah taman, dan di taman itu akan diadakan Pameran music klasik, jadi aku harap kamu akan bersiap untuk pergi denganku, dan ingat aku menjemputmu jam tujuh malam”. “ Ya . . . boleh deh daripada aku bosen di rumah mendingan aku jalan sama kamu, ya udah aku tunggu ya jam tujuh malam di rumahku!!!”
Hari ini jam tujuh malam Iban akan menjemputku untuk pergi ke suatu tempat yang indah. dan tepat pukul tujuh malam ia menepati janjinya padaku. kemudian ia menekan bel rumahku, dan ketika ku buka pintu rumahku itu, ia berkata padaku disambut dengan senyuman yang indah. “ Ayo tuan putri, sang pangeran telah menunggumu”, ternyata orang itu bukanlah Iban melainkan supirnya, dan aku berkata “ baik aku akan segera pergi, tapi kenapa mang Dodo yang menjemput saya, Ibannya mana???” aku bertanya pada supirnya itu, tetapi supirnya itu tidak menjawab pertanyaanku, sepertinya ada yang dirahasiakan dariku. sesampainya di tempat yang telah di janjikan, tepatnya di sebuah taman yang penuh dengan banyak bunga kutemukan Iban duduk di sebuah bangku taman berwarna hijau dengan dekorasi bunga yang indah. lalu kususul dia dan berkata “ kenapa bukan kamu yang menjemput aku tadi??? apa ada masalah?” ia terdiam dengan wajah murung, tetapi kemudian ia tersenyum dan menjawab “ karna aku lebih ingin menjadi kejutan untukmu!”. dia menunjukkan kearah sebuah biola dan berkata “ aku akan memainkan biola itu untukmu, tunggu sebentar ya!!!”. ia tersenyum dan berlari kearah biola itu. kemudian ia memulai permainannya, wah ternyata ia memainkan lagu Ave Maria. sungguh indah bukan main permainannya itu, lagu yang berjenis music klasik itu dapat dimainkan dengan indah sampai** aku meneteskan air mataku. semua orang yang berada di taman melihat permainannya dengan focus . . . sampai ketika permainannya itu selesai.
ketika permainanya selesai, semua orang memberikan tepuk tangan yang sangat meriah padanya. dia kemudian mengambil sebuah bunga dan meneriakkan kata-kata “ I Love You Kavi . . . I’m Very** Love You, apakah kau akan menerima rasa Cintaku Ini . . .”. dalam waktu sekejap semua orang yang berada ditaman berteriak . . . “ terima . .terima . . . jangan ditolak . . .” aku tersentak kaget, tak kusangka ia akan mengatakan hal itu padaku . . . dan akupun menjawab “ Sebenarnya . . . Sebenarnya . . . aku juga uda punya rasa cinta sama kamu semenjak kamu menciumku . . . dan kejadian itu tak kan pernah kulupakan, maka dari itu aku juga ingin kau mencintaiku, jadi kuterima rasa cintamu itu padaku dan tak kan pernah kulepas sampai kapanpun . . .”. tiba** dia berlari dan memelukku dengan erat sambil berkata “ makasih uda terima cintaku ini, ku harap kita akan selalu bersama!!!”.
Waktu berjalan terus tanpa terhenti sedetik pun . . . dan akhirnya aku udah hampir dua bulan lebih jadian dengannya. Aku banyak diajari cara bermain biola oleh Iban, mungkin saat kompetisi itu dimulai aku akan memainkan lagu Ave Maria, lagu itu adalah lagu kesukaan Iban dan tentunya hanya lagu itu yang dapat kumainkan saat ini. dan tak terasa waktu kompetisi itu akan segera di mulai tepat dua minggu lagi. Aku tak ingin mengecewakan papa dan mama, Nandi dan Quita, dan yang paling khusus Iban. Iban akan memainkan lagu Canon, dan tentunya lagu itu adalah lagu kesukaanku. “ Kavi . . . ayo coba di nada E Mayor!” Iban mencoba menaikkan nadaku saat aku berlatih bermain biola dan aku berkata “ Iban . . . kayaknya latihannya sampai disini aja Ya . . . soalnya aku capek banget nie!” lagi** iban terdiam ketika ku selesai berbicara dan kemudian dia berkata “ Ya uda kalo kamu capek belajar denganku, mungkin kamu bosan denganku . . .”. tidak tau mengapa akhir** ini Iban sering murung dan merendahkan dirinya di depanku. aku merasa seperti ada suatu beban yang ditahan olehnya, aku ingin ia mau mengatakan masalahnya itu padaku . . . karna . . .karna . . .aku sangat khawatir dan perduli dengannya. dua minggu berlalu dan inilah waktu ku untuk tampil di panggung pentas untuk memainkan permainan music biolaku. ketika saat aku memainkan biola itu aku berkata dalam hati “ Aku ingin lagu ini menjadi lagu yang terdengar indah oleh orang lain, aku ingin orang yang mendengarkan lagu ini bisa meneteskan air mata dengan derasnya, seperti saat aku mendengar permainan Iban kala waktu ia mengungkapkan rasa cintanya padaku . . .” dan ternyata hasil dari permainanku sesuai dengan keinginanku. namun berbeda hal dengan Iban, ketika waktunya ia untuk tampil . . . ia menghilang dari ruangan saat itu, dan akhirnya dia diputuskan berhenti dari kompetisi oleh panitia.
beberapa Hari seusai kompetisi itu diputuskan bahwa juara satu dari kompetisi itu adah Fanya dari kelas 2C, dan juara keduanya adalah aku sendiri, Kavia Nanda dari kelas 2B. sedangakan juara ketiganya adalah . . . Rickho anak dari kelas 1A. menurutku aku sangat tidak pantas berada dipodium kejuaraan, karna aku merasa belum sepenuhnya membuat semua orang tersenyum melihat permainanku dengan tulus . . . seperti Iban.
“ Iban . . . Iban . . . aku ingin berbicara denganmu, aku mohon beri waktu sedikit untukku “ aku mencoba mengajaknya untuk berbicara karna dalam beberapa hari ini ia sering sekali jarang masuk sekolah dan ia menjawab pertanyaanku itu “ Baiklah . . . tetapi lebih baik jika kita berbicaranya di atap gedung sekolah saja . . .”. sesampainya diatap gedung sekolah aku berkata “ Iban kenapa waktu kompeti . . .” ia memotong pembicaraanku dan berkata ”wah siang ini cuacanya cerah banget yach . . .” dan aku sesaat terdiam dan berfikir bahwa ia menyembunyikan sesuatu dariku, mungkin ia tidak ingin aku mengetahuinya. aku pun berdiri disampingnya sambil merunduk dan berkata “ Iban lebih baik kau jujur saja padaku . . .”, kemudian ia berkata “ apa maksudmu Kavi?”. sambil meneteskan air mata aku memarahinya dan berkata “ kenapa kau sembunyikan masalahmu padaku??? apa kamu sudah gak nganggap aku cwe’ kamu??? ayolah coba jujur padaku . . . beban apa yang selama ini kamu tanam di hatimu . . . kalau kau terus merahasiakannya, aku akan semakin khawatir padamu!!!”. dia menarik tangan ku dan mengatakan “ Aku . . . Aku . . .Aku . . . akan pergi jauh, meninggalkan dirimu, dan mungkin tak akan pernah kembali lagi kesini . . .” aku terkejut dan dengan muka yang sedih aku berkata “ memangnya kamu mau pergi kemana???” dia menjawab “ aku ingin kuliah ke Inggris untuk waktu yang lama!!!” aku kembali meneteskan air mataku dan kali ini sangat deras seperti aliran sungai yang tiada hentinya. aku bertanya padanya “ kapan kau akan pergi ???” “Mungkin besok aku akan berangkat . . .!”. “ apakah secepat itu? kenapa kamu gak bilang sebelumnya?” “Kavi, aku gak bilang tentang ini denganmu karna aku takut kamu akan sedih dan kecewa padaku . . . maka dari itu sebagai ucapan perpisahanku, bagaimana kalau kita makan malam bersama? dan satu hal lagi, aku ingin kamu mengantarkanku ke Airport besok jam tujuh pagi” “ baiklah Ibanku Sayang . . .”.
Seperti yang telah dikatakanya, aku pergi makan malam bersama di sebuah restaurant mewah dengannya. kami berdua tak banyak bicara, kami hanya saling senyum dan saling menatap satu sama lain. tak ada kata** khusus yang ingin kuucapkan padanya. Sebenarnya hatiku ini menjerit karna sedih . . . sebenarnya aku tak rela ia akan meninggalkanku secepat ini, namun apa boleh buat karna itu adalah keputusan orang tuanya.
Esok paginya tepat hari Minggu jam tujuh pagi, aku mengantarkanya ke Airport Soekarno-Hatta. ketika ia ingin masuk kedalam pesawat ia berkata padaku sambil memberikan sesuatu untukku “ Sampai sini saja kavi, aku sangat ingin kita terus bersama namun namanya takdir apa boleh buat kan???, ini untukmu sebagai hadiah ucapan selamatku karena kau berhasil menuju ketingkat wilayah . . .” setelah kubuka isi kotak itu adalah sebuah biola, sepertinya itu adalah biola yang selalu dipakainya, dan aku berkata kembali padanya “ terima kasih atas hadiahnya . . . kenapa kau berikan biola kesayanganmu padaku???” dia menjawab dengan senyuman dan kemudian tanganya yang halus itu mengangkat daguku dan dengan mata yang berkaca** dia menciumku, rasanya manis bagaikan permen, halus terasa, ingin ku lepas tapi tak bisa, aku . . . sangat ingin ia berada disisiku . . . dan rasanya aku selalu ingin memeluknya dengan erat . . . setelah kehangatan itu dilepas olehnya ia berkata padaku “ Aku ingin kau menyimpan biola itu agar kau tetap mengenang cintaku ini, karna biola itulah sumber cintaku........ Selamat Tinggal kavi . . . .!!!” ia meninggalkanku dan tanpa rasa malu aku berteriak padanya dan berkata “ Aku sangat mencintaimu . . . maka dari itu aku akn selalu menunggumu sampai kapanpun . . .”
dua tahun berlalu, sejak kejadian itu aku sangat sering memainkan lagu kesukaannya Ave maria dengan memakai biola miliknya yang ia berikan padaku. kini aku adalah mahasiswi sebuah Universitas Music di Jakarta. aku mengambil jurusan Music Orcestra. dan yang jelas aku memainkan biola milik Iban, Ibanu Satria. “ aduh . . . maaf ya, aku gak sengaja, sorry aku uda nabrak kamu . . . sekali lagi sorry yach . . .!”. aku menabrak seseorang yang mungkin tak kukenal dan kemudian aku mengangkat wajahku kearah mukanya. betapa terkejutnya aku ketika kulihat wajahnya itu . . . “ Hah . . . aku gak mimpi kan???? kamu ini . . . Iban ya???”. kemudian pria itu mengangkat tanganku dan berkata “ kamu gak lagi mimpi kok, ini bener aku Iban, terima kasih ya kamu uda mau memakai biolaku ini, apakah kamu akan kembali menjadi . . . kekasihku lagi . . .???”.
“Mungkin ini adalah mimpi, tapi mimpi itu adalah suatu kebahagiaan untukku, karna aku dapat melihat, memegang tangannya, dan memeluknya dengan erat . . . Ibanu ku tersayang . . .”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar